Sumatera:
Nama asli Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan
cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh (bahasa
Minangkabau, berarti pulau emas) kita jumpai dalam cerita Cindur Mata
dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas
untuk menyebut pulau Sumatera. Seorang musafir dari Cina yang bernama
I-tsing (634-713), yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang
sekarang) pada abad ke-7, menyebut Sumatera dengan nama chin-chou yang
berarti “negeri emas”.
Dalam berbagai prasasti, Sumatera disebut dengan nama Sansekerta:
Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama
ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah
Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan
pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam
cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik
Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.
Para musafir Arab menyebut Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya:
Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni,
ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan
bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Namun ada juga
orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilangka, yang tidak pernah
disebut Suwarnadwipa.
Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan
baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama
Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13
dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan
itu untuk menyebut seluruh pulau.
Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau)
menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya
tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel,
India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah
bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa
pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya,
nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir
lain untuk menyebutkan seluruh pulau.
Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera
Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin
oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan
Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta
Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510
menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512
menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang
agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang
lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra
dan Zamatora.
Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van
Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam
penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian
disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera
Jawa:
Asal-usul nama ‘Jawa’ tidak jelas. Salah satu kemungkinan adalah bahwa
para musafir dari India menamakan pulau ini berdasarkan tanaman
jƔwa-wut, yang sering dijumpai . Ada kemungkinan lain sumber: kata Jau
dan variasinya berarti “di luar” atau “jauh”. Dan, dalam bahasa
Sansekerta yava berarti barley atau Jelai atau Jawawut, tanaman yang
terkenal pulau itu. Sumber lain menyatakan bahwa kata “Jawa” berasal
dari Proto-Austronesia yang berarti ‘rumah’.
Kalimantan:
• Pertama.
Borneo dari kata Kesultanan Brunei Darussalam yang sebelumnya merupakan
kerajaan besar dan luas (mencakup Serawak dan sebagian Sabah karena
sebagian Sabah ini milik kesultanan Sulu-Mindanao. Para pedagang
Portugis menyebutnya Borneo dan digunakan oleh orang-orang Eropa. Di
dalam Kakimpoi Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 Kerajaan Brunei
kuno disebut “Barune”, sehingga ada pula yang menyebutnya “Waruna Pura”.
Namun penduduk asli menyebutnya sebagai pulo Klemantan.
• Kedua.
Menurut Crowfurd dalam Descriptive Dictionary of the Indian Island
(1856), kata Kalimantan adalah nama sejenis mangga sehingga pulau
Kalimantan adalah pulau mangga namun dia menambahkan bahwa kata itu
berbau dongeng dan tidak populer.
• Ketiga.
Menurut Dr. B. Ch. Chhabra dalam jurnal M.B.R.A.S vol XV part 3 hlm 79
menyebutkan kebiasaan bangsa India kuno menyebutkan nama tempat sesuai
hasil bumi seperti jewawut dalam bahasa sanksekerta yawa sehingga pulau
itu disebut yawadwipa yang dikenal sebagai pulau Jawa sehingga
berdasarkan analogi itu pulau itu yang dengan nama Sansekerta Amra-dwipa
atau pulau mangga.
• Keempat.
Menurut dari C.Hose dan Mac Dougall menyebutkan bahwa kata Kalimantan
berasal dari 6 golongan suku-suku setempat yakni Dayak Laut (Iban),
Kayan, Kenya, Klemantan, Munut, dan Punan. Dalam karangannya, Natural
Man, a Record from Borneo (1926), C Hose menjelaskan bahwa Klemantan
adalah nama baru yang digunakan oleh bangsa Melayu.
• Kelima.
Menurut W.H Treacher dalam British Borneo dalam jurnal M.B.R.A.S (1889),
mangga liar tidak dikenal di Kalimantan utara. Lagi pula Borneo tidak
pernah dikenal sebagai pulau yang menghasilkan mangga malah mungkin
sekali dari sebutan Sago Island (pulau Sagu) karena kata Lamantah adalah
nama asli sagu mentah.
• Keenam.
Menurut Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya Sriwijaya (LKIS 2006),
kata Kalimantan bukan kata melayu asli tapi kata pinjaman sebagai halnya
kata malaya, melayu yang berasal dari India (malaya yang berarti
gunung). Kalimantan atau Klemantan berasal dari Sanksekerta,
Kalamanthana yaitu pulau yang udaranya sangat panas atau membakar
(kal[a]: musim, waktu dan manthan[a]: membakar). Karena vokal a pada
kala dan manthana menurut kebiasaan tidak diucapkan, maka Kalamanthana
diucap Kalmantan yang kemudian disebut penduduk asli Klemantan atau
Quallamontan yang akhirnya diturunkan menjadi Kalimantan.
Sulawesi:
Orang Portugis adalah yang pertama merujuk ke Sulawesi sebagai
‘Celebes’. Arti nama ini tidak jelas. Satu teori mengklaim kalau itu
berarti “sulit untuk dicapai” karena pulau tersebut dikelilingi arus
laut dan air dan sungai yang deras. Nama modern ‘Sulawesi’ mungkin
berasal dari kata-kata sula ( ‘pulau’) dan besi ( ‘besi’) dan dapat
merujuk kepada sejarah ekspor besi dari Danau Matano yang kaya akan
deposit bijih besi.
Irian Jaya atau Papua:
Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal
sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea).
Setelah berada di bawah penguasaan Indonesia, wilayah ini dikenal
sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya
kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan
tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara
resmi hingga tahun 2002. Irian sendiri merupakan kependekan dari Ikut
Republik Indonesia, Anti Nederland (join/follow the Republic of
Indonesia, rejecting the Netherlands)
Nama provinsi ini diganti menjadi Papua sesuai UU No. 21 Tahun 2001
tentang Otonomi Khusus Papua. Pada 2003, disertai oleh berbagai protes
(penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua
provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama
Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat
(setahun kemudian menjadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang menjadi
wilayah Provinsi Papua pada saat ini.
Kata Papua sendiri berasal dari bahasa melayu yang berarti rambut
keriting, sebuah gambaran yang mengacu pada penampilan fisik suku-suku
asli.
http://legendanusantara.wordpress.com
Pembelian Lebih Dari Satu Akan Mendapatkan Potongan Harga - Hubungi Kami segera
Tampilkan postingan dengan label asal usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asal usul. Tampilkan semua postingan
Asal Usul Nama “Indonesia”
Rasanya aneh jika kita tidak mengetahui arti dan makna dari kata negara kita “Indonesia”. Berikut adalah penjabaran arti dari kata Indonesia :
Asal-usul nama Indonesia
Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam
catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai(Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa Indoa menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara
(luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan
pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah “Hindia“. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).
Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalahNederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).
Eduard Douwes Dekker ( 1820 – 1887 ), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” ( Bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.
Nusantara
Pada tahun 1920, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker ( 1879 – 1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh JLA. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam Bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).
Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyahitu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asliantara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.
Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan wilayah tanah air dari Sabang sampai Merauke.
Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan ( 1819 – 1869 ), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Ingris, George Samuel Windsor Earl ( 1813 – 1865 ), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama:Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:
“… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians“.
Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu)
daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat
untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (
Srilanka ) dan Maladewa. Earl berpendapat juga bahwa nahasa Melayu
dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang
menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:
“Mr. Earl suggests the ethnographical term
Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the
purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym
for the Indian Islands or the Indian Archipelago“.
Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa
di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan
secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan
ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan
para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826 – 1905 ) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalamEncyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat ( Ki Hajar Dewantara ). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiƫr (orang Indonesia).
Identitas Politik
Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,:
“Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat)
mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab
dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama
Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena
melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan
untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha
dengan segala tenaga dan kemampuannya.”
Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun
1924). Pada tahun 1925, Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan
Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di
tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama
“Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada
Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini
dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch-Indie”. Tetapi Belanda menolak mosi ini.
Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda”. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, lahirlahRepublik Indonesia.
Asal istilah nama Indonesia
Nama ” INDONESIA” muncul pertama kali tahun 1850 yang diciptakan/dipakai
oleh James Richard Logan (ahli hukum Skotlandia) Menurutnya dia lebih
menyukai isitilah geografis “Indonesia” yang bersinonim dengan
“Kepulauan Hindia”.Pendapatnya merupakan penolakan terhadap istilah “indunesians” dan “Melayunesians” yang digunakan oleh George Samuel Windsoe Earl un
tuk menyebut penduduk Kepulauan Malayan.JR Logan menciptakan istilah baru ” Indonesia” untuk menyebut penghuni wilayah gugusan nusantara dan membaginya menjadi 4 wilayah geografis : 1. Indonesia Barat terdiri dari Sumatera, semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa dan pulau-pulau antara. 2. Indonesia Timur Laut terdiri dari Formosa hingga gugusan Kepulauan Sulu dan Mindanao di Philipina hingga Kepulauan Visaya. 3. Indonesia barat daya terdiri dari Pantai timur Kalimantan hingga Papua Nugini termasuk gugusan kepulauan di papua barat, Kai dan Aru. dan 4. Indonesai Selatan terdiri dari gugusan kepulauan selatan trans-Jawa, anatara Jawa – Papua Nugini atau dari Bali hingga gugusan Kepulauan Timor.
Loga adalah orang yang pertama mengenalkan nama “Indonesia”, kemudian Adolf Bastian guru besar Etnologi Universitas Berlin yang mempopulerkannya di dunia akademis selama kurun waktu 1884-1894. Nama Indonesia sudah dikenal sebagai istilah budaya dan geografis, karena secara politis wilayah ini dikuasai Belanda dengan sebutan Nederlandsch-Indie )Hindia Belanda).
Makna politis terminologi Indonesia baru tumbuh setelah abad ke-20, setelah Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) memakainya melalui pendirian biro pers Indonesische Per-bureu saat diasingkan ke negeri Belanda tahun 1913. Th 1922 atas prakarsa Mohammad Hatta mengubah nama Indische Vereeniging menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia yang merupakan organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Belanda yang didirikan tahun 1908.
Era ini merupakan penguatan gerakan pemakian nama “INDONESIA” sebagai penggagti istilah “Hindia belanda” oleh kalangan pemuda dan mahasiswa Indonesia hingga mencapai kemerdekaan. Hal ini juga dibarengi adanya perubahan nama majalah milik Perhimpoenan Indonesia yauti Hindia Belanda menjadi “Indonesia Merdeka ” Sementara itu di tanah air, pergerakan memakai nama “Indonesia” dimulau th 1942 oleh dr.Soetomo pendiri Indonesische Studie Club. Setahun kemudian, Jong Islamieten Bond membentuk Kepanduan National Indonesische Padvinderi (NATIPIJ).
Nama “Indonesia” sebagai suatu negara dan bangsa baru muncul saat Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia tgl 17 Agustus 1945. Kini Indonesia memasuki usianya yang ke-63 usia yang tidak muda lagi, apakah sudah terwujud cita-cita para pendiri negeri ini ?
Sumber: http://tengkoraksakti.blogspot.com
Labels:
asal usul
Songkok Hitam Punya Indonesia
"Berbaju putih, Bersongkok Merah"
Itulah sepenggal kalimat yang muncul dalam Syair Siti Zubaidah (1840), satu dari sekian ratus syair yang terkenal di dunia kesusteraan Melayu. Sepenggal syair di atas mungkin singkat adanya, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan betapa songkok merupakan salah satu pengisi sejarah budaya di tanah melayu, tak terkecuali Indonesia.
Oke, sebelum kita berbicara lebih jauh tentang bahasan Songkok Hitam dan Indonesia, ada baiknya kita kenali lebih dulu apa itu songkok.
Apa itu Songkok?
Songkok, agak terdengar seperti bahasa China ya? (mungkin karena pengucapannya hampir sama dengan kata Tiongkok, atau Samkok), Padahal Songkok sama sekali tidak merujuk pada sesuatu yang berbau China, melainkan justru merujuk pada sesuatu yang sangat melayu, sebuah benda berupa penutup kepala yang selain erat kaitannya dengan melayu, juga identik dengan Islam. Masyarakat Luas lebih mengenalnya sebagai Peci, atau kopiah (Di Daerah saya sendiri, Magelang, orang menyebutnya sebagai kupluk). Secara Fisik, Songkok bisa digambarkan sebagai penutup kepala (untuk laki-laki) dengan penampang berbentuk lonjong, bulat, atau bulat memanjang. biasanya terbuat dari bahan beludru atau cotton dan kadang dihiasi bordiran atau rajutan ornament Islami.

Songkok (Peci, atau Kopiah)
Konon, Songkok (atau peci) berasal dari Daerah Timur Tengah, terutama daerah Turki (beberapa data menyebutkan songkok berasal dari India). Kata Peci di Indonesia sendiri berasal dari serapan bahasa Belanda, yaitu Pet (Topi) dan Ce (Kecil). Adapun Asal-usul keberadaan songkok di Daerah Melayu (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina) diperkirakan dibawa oleh para pedagang dari Arab pada abad ke 13, dimana pada masa itu, terjadi eksodus besar-besaran para pedagang dan Saudagar Arab ke Melayu untuk berdagang sambil menyebarkan agama Islam di Tanah Melayu.

Ilustrasi persebaran Songkok hingga ke Indonesia
Pesatnya perkembangan agama Islam di tanah melayu secara langsung juga membuat pamor Songkok makin terkenal, banyak orang-orang melayu yang kemudian menjadikan songkok sebagai atribut busananya, tak terkecuali Indonesia.
Songkok Melayu Punya, Songkok hitam Indonesia punya
Songkok boleh jadi menjadi identitas Melayu (Indonesia, Malaysia, Bruney, Singapura), Tapi jika sudah berbicara Songkok Hitam, maka tak dapat ditawar lagi, itulah identitas khusus untuk bangsa Indonesia, sekali lagi Indonesia (tanpa ada embel-embel melayu). Sejarah panjang pemakaian identitas songkok hitam bagi bangsa Indonesia bermula . Saat itu, hampir semua bangsa-bangsa pergerakan (bangsa yang sedang dalam masa pergerakan perjuangan untuk melepaskan diri dari penjajahan atau membentuk negara baru), terutama bangsa-bangsa Asia dan Afrika berusaha untuk menonjolkan identitas pergerakan nasionalisme kebangsaan mereka, tak terkecuali Indonesia.
Usaha penonjolan identitas kebangsaan ini sendiri dipelopori oleh bangsa Turki, saat itu kaum muda pergerakan menggunakan topi fez sebagai simbol pergerakan Turki Muda di tahun 1908 yang saat itu menuntut adanya reformasi dari Sultan Turki, keberhasilan gerakan Turki Muda ini kemudian membuat tokoh-tokoh pergerakan dari negara-negara lain mengikuti cara pergerakan Turki muda, yaitu menggunakan symbol kebangsaan. Dan Para Tokoh Pergerakan Bangsa Indonesia sadar betul, bahwa pemakaian identitas kebangsaan adalah cara yang ampuh untuk mengenalkan pergerakan bangsa Indonesia di mata Internasional, karena itulah kemudian dalam rapat Jong Java di semarang, Bung Karno yang saat itu merupakan pentolan Partai Nasional Indonesia mengenalkan songkok hitam sebagai identitas Partainya.

Songkok Hitam, Identitas Bangsa Indonesia
Lambat Laun, aksi dan sepak terjang Bung Karno bersama para pemimpin PNI dalam pergerakan nasional Indonesia membuat PNI menjadi partai yang besar, sontak, popularitas songkok hitam pun kemudian ikut melambung pula. Penggunaan Songkok Hitam kemudian meluas acuannya, dari identitas partai, kemudian menjadi Identitas kebangsaan. Apalagi setelah Bung Karno terpilih menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945.
Bukannya Malaysia juga punya Songkok Hitam?
Ya, Jumlah pengguna Songkok hitam di Malaysia memang lumayan banyak, tapi bukan berarti Songkok hitam itu diclaim menjadi milik Malaysia, karena Malaysia sendiri belum pernah mengumumkan Songkok hitam sebagai identitas kebangsaan atau organisasi kebangsannya, lain halnya dengan Indonesia yang dengan jelas dan gamblang memproklamirkan Songkok hitam sebagai identitas kebangsaan (walaupun bermula dari identitas partai kebangsaan). Malaysia pada akhirnya memutuskan untuk menjadikan Tanjak (sejenis Songkok, namun berbeda bentuknya) sebagai identitas kebangsannya, tanjak konon menjadi mahkota kebesaran bagi Hang Tuah, yang notaben adalah salah satu tokoh pahlawan bagi masayarakat Malaysia. Di Beberapa daerah di Indonesia, Tanjak Juga lumayan terkenal.

Tanjak, Penutup kepala identitas Bangsa Malaysia

Memakai Tanjak
Songkok Hitam ala Indonesia di mata Internasional
Pasca kemerdekaan, ternyata perjuangan bangsa Indonesia belum usai, Indonesia masih harus menghadapi berbagai permasalahan, diantaranya masalah pengakuan kedaulatan, masalah negara boneka, sampai masalah Irian Barat. Dalam Kondisi seperti ini, Para Pemimpin dan wakil bangsa Ini Diuji kemampuan diplomasi Internasionalnya untuk mempertahankan martabat bangsa ini melalui berbagai diplomasi perjanjian, diantaranya Perjanjian Linggarjati, Renville, Roem Royen, Konferensi Meja Bundar, sampai Konferensi Tiga Negara (Tapi maaf, saya tidak akan membicarakan masalah diplomasinya, tapi masalah songkok hitamnya). Rupanya, dalam setiap kegiatan diplomasinya, para wakil bangsa ini selalu menggunakan Songkok Hitam sebagai identitasnya. Hal ini secara tidak langsung membuat Pamor Songkok Hitam sebagai identitas bangsa Indonesia makin kentara di mata Internasional.
Bahkan Presiden Soekarno sendiri selalu memakai Songkok hitam sebagai salah satu pakaian kebesarannya, baik dalam acara kunjungan ke luar negeri ataupun kegiatan pemerintahan di dalam negeri, Presiden Soekarno selalu memakai Songkok Hitam, tak heran jika kemudian Songkok Hitam menjadi ciri khas seorang Seokarno (selain tongkat komandonya yang namanya sudah sangat termasyur itu).

Dalam setiap kunjunganya ke luar Negeri, Bung Karno selalu memakai Songkok Hitam
Songkok Hitam Pasca Orde Lama
Memasuki masa Orde baru, Rezim Seoharto berusaha untuk menghapus berbagai sesuatu yang berbau orde lama, segala hal yang ada hubungannya dengan orde lama (terutama berhubungan dengan Seokarno). Namun ternyata, tradisi Songkok hitam yang jelas-jelas sangat identik dengan Seokarno tidak ikut dihapuskan, mungkin karena sudah terlalu memasyarakat (atau mungkin karena tak terlalu mengingatkan rakyat pada euforia orde lama). Sehingga di masa Orde barupun, “tradisi memakai songkok hitam” tetap lestari.
Songkok hitam, nasibmu kini
Sungguh sangat memprihatinkan, ternyata di jaman sekarang ini, banyak generasi muda yang enggan dan justru malah merasa malu kalo memakai songkok hitam, karena menurut mereka, songkok hitam itu kuno, jadi jangan heran jika di jaman sekarang, pemakaian songkok hitam hanya sebatas oleh orang-orang tua, andaipun orang-orang muda mau memakainya, itupun tak seberapa jumlahnya, dan juga itu biasanya juga hanya dipakai pada sat acara-acara tertentu seperti pengajian, khitanan, lawatan, dan acara-acara tertentu lainnya.

beberapa Anggota Kabinet Indonesia bersatu II berpose santai dengan Songkok Hitam


Paskibra Indonesia: Songkok Hitam tetap menjadi penutup kepala Wajib

Pegawai Negeri pun memakai Songkok Hitam (Yang PNS wanita tolong diabaikan)
Jangan Malu memakai Songkok hitam, Itu Punya kita
Jika kita merasa bangga saat memakai batik, maka kita seharusnya juga bangga memakai songkok hitam , karena keduanya merupakan warisan bangsa kita yang tentunya pantas dan harus dilestarikan. Harapannya tentu saja agar Semangat kebangsaan Indonesia lewat songkok hitam ini kembali terangkat seperti pada saat masa-masa pergerakan dulu.
http://mbahkarno.blogspot.com
Itulah sepenggal kalimat yang muncul dalam Syair Siti Zubaidah (1840), satu dari sekian ratus syair yang terkenal di dunia kesusteraan Melayu. Sepenggal syair di atas mungkin singkat adanya, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan betapa songkok merupakan salah satu pengisi sejarah budaya di tanah melayu, tak terkecuali Indonesia.
Oke, sebelum kita berbicara lebih jauh tentang bahasan Songkok Hitam dan Indonesia, ada baiknya kita kenali lebih dulu apa itu songkok.
Apa itu Songkok?
Songkok, agak terdengar seperti bahasa China ya? (mungkin karena pengucapannya hampir sama dengan kata Tiongkok, atau Samkok), Padahal Songkok sama sekali tidak merujuk pada sesuatu yang berbau China, melainkan justru merujuk pada sesuatu yang sangat melayu, sebuah benda berupa penutup kepala yang selain erat kaitannya dengan melayu, juga identik dengan Islam. Masyarakat Luas lebih mengenalnya sebagai Peci, atau kopiah (Di Daerah saya sendiri, Magelang, orang menyebutnya sebagai kupluk). Secara Fisik, Songkok bisa digambarkan sebagai penutup kepala (untuk laki-laki) dengan penampang berbentuk lonjong, bulat, atau bulat memanjang. biasanya terbuat dari bahan beludru atau cotton dan kadang dihiasi bordiran atau rajutan ornament Islami.

Songkok (Peci, atau Kopiah)
Konon, Songkok (atau peci) berasal dari Daerah Timur Tengah, terutama daerah Turki (beberapa data menyebutkan songkok berasal dari India). Kata Peci di Indonesia sendiri berasal dari serapan bahasa Belanda, yaitu Pet (Topi) dan Ce (Kecil). Adapun Asal-usul keberadaan songkok di Daerah Melayu (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina) diperkirakan dibawa oleh para pedagang dari Arab pada abad ke 13, dimana pada masa itu, terjadi eksodus besar-besaran para pedagang dan Saudagar Arab ke Melayu untuk berdagang sambil menyebarkan agama Islam di Tanah Melayu.

Ilustrasi persebaran Songkok hingga ke Indonesia
Pesatnya perkembangan agama Islam di tanah melayu secara langsung juga membuat pamor Songkok makin terkenal, banyak orang-orang melayu yang kemudian menjadikan songkok sebagai atribut busananya, tak terkecuali Indonesia.
Songkok Melayu Punya, Songkok hitam Indonesia punya
Songkok boleh jadi menjadi identitas Melayu (Indonesia, Malaysia, Bruney, Singapura), Tapi jika sudah berbicara Songkok Hitam, maka tak dapat ditawar lagi, itulah identitas khusus untuk bangsa Indonesia, sekali lagi Indonesia (tanpa ada embel-embel melayu). Sejarah panjang pemakaian identitas songkok hitam bagi bangsa Indonesia bermula . Saat itu, hampir semua bangsa-bangsa pergerakan (bangsa yang sedang dalam masa pergerakan perjuangan untuk melepaskan diri dari penjajahan atau membentuk negara baru), terutama bangsa-bangsa Asia dan Afrika berusaha untuk menonjolkan identitas pergerakan nasionalisme kebangsaan mereka, tak terkecuali Indonesia.
Usaha penonjolan identitas kebangsaan ini sendiri dipelopori oleh bangsa Turki, saat itu kaum muda pergerakan menggunakan topi fez sebagai simbol pergerakan Turki Muda di tahun 1908 yang saat itu menuntut adanya reformasi dari Sultan Turki, keberhasilan gerakan Turki Muda ini kemudian membuat tokoh-tokoh pergerakan dari negara-negara lain mengikuti cara pergerakan Turki muda, yaitu menggunakan symbol kebangsaan. Dan Para Tokoh Pergerakan Bangsa Indonesia sadar betul, bahwa pemakaian identitas kebangsaan adalah cara yang ampuh untuk mengenalkan pergerakan bangsa Indonesia di mata Internasional, karena itulah kemudian dalam rapat Jong Java di semarang, Bung Karno yang saat itu merupakan pentolan Partai Nasional Indonesia mengenalkan songkok hitam sebagai identitas Partainya.

Songkok Hitam, Identitas Bangsa Indonesia
Lambat Laun, aksi dan sepak terjang Bung Karno bersama para pemimpin PNI dalam pergerakan nasional Indonesia membuat PNI menjadi partai yang besar, sontak, popularitas songkok hitam pun kemudian ikut melambung pula. Penggunaan Songkok Hitam kemudian meluas acuannya, dari identitas partai, kemudian menjadi Identitas kebangsaan. Apalagi setelah Bung Karno terpilih menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945.
Bukannya Malaysia juga punya Songkok Hitam?
Ya, Jumlah pengguna Songkok hitam di Malaysia memang lumayan banyak, tapi bukan berarti Songkok hitam itu diclaim menjadi milik Malaysia, karena Malaysia sendiri belum pernah mengumumkan Songkok hitam sebagai identitas kebangsaan atau organisasi kebangsannya, lain halnya dengan Indonesia yang dengan jelas dan gamblang memproklamirkan Songkok hitam sebagai identitas kebangsaan (walaupun bermula dari identitas partai kebangsaan). Malaysia pada akhirnya memutuskan untuk menjadikan Tanjak (sejenis Songkok, namun berbeda bentuknya) sebagai identitas kebangsannya, tanjak konon menjadi mahkota kebesaran bagi Hang Tuah, yang notaben adalah salah satu tokoh pahlawan bagi masayarakat Malaysia. Di Beberapa daerah di Indonesia, Tanjak Juga lumayan terkenal.

Tanjak, Penutup kepala identitas Bangsa Malaysia

Memakai Tanjak
Songkok Hitam ala Indonesia di mata Internasional
Pasca kemerdekaan, ternyata perjuangan bangsa Indonesia belum usai, Indonesia masih harus menghadapi berbagai permasalahan, diantaranya masalah pengakuan kedaulatan, masalah negara boneka, sampai masalah Irian Barat. Dalam Kondisi seperti ini, Para Pemimpin dan wakil bangsa Ini Diuji kemampuan diplomasi Internasionalnya untuk mempertahankan martabat bangsa ini melalui berbagai diplomasi perjanjian, diantaranya Perjanjian Linggarjati, Renville, Roem Royen, Konferensi Meja Bundar, sampai Konferensi Tiga Negara (Tapi maaf, saya tidak akan membicarakan masalah diplomasinya, tapi masalah songkok hitamnya). Rupanya, dalam setiap kegiatan diplomasinya, para wakil bangsa ini selalu menggunakan Songkok Hitam sebagai identitasnya. Hal ini secara tidak langsung membuat Pamor Songkok Hitam sebagai identitas bangsa Indonesia makin kentara di mata Internasional.
Bahkan Presiden Soekarno sendiri selalu memakai Songkok hitam sebagai salah satu pakaian kebesarannya, baik dalam acara kunjungan ke luar negeri ataupun kegiatan pemerintahan di dalam negeri, Presiden Soekarno selalu memakai Songkok Hitam, tak heran jika kemudian Songkok Hitam menjadi ciri khas seorang Seokarno (selain tongkat komandonya yang namanya sudah sangat termasyur itu).

Dalam setiap kunjunganya ke luar Negeri, Bung Karno selalu memakai Songkok Hitam
Songkok Hitam Pasca Orde Lama
Memasuki masa Orde baru, Rezim Seoharto berusaha untuk menghapus berbagai sesuatu yang berbau orde lama, segala hal yang ada hubungannya dengan orde lama (terutama berhubungan dengan Seokarno). Namun ternyata, tradisi Songkok hitam yang jelas-jelas sangat identik dengan Seokarno tidak ikut dihapuskan, mungkin karena sudah terlalu memasyarakat (atau mungkin karena tak terlalu mengingatkan rakyat pada euforia orde lama). Sehingga di masa Orde barupun, “tradisi memakai songkok hitam” tetap lestari.
Songkok hitam, nasibmu kini
Sungguh sangat memprihatinkan, ternyata di jaman sekarang ini, banyak generasi muda yang enggan dan justru malah merasa malu kalo memakai songkok hitam, karena menurut mereka, songkok hitam itu kuno, jadi jangan heran jika di jaman sekarang, pemakaian songkok hitam hanya sebatas oleh orang-orang tua, andaipun orang-orang muda mau memakainya, itupun tak seberapa jumlahnya, dan juga itu biasanya juga hanya dipakai pada sat acara-acara tertentu seperti pengajian, khitanan, lawatan, dan acara-acara tertentu lainnya.

beberapa Anggota Kabinet Indonesia bersatu II berpose santai dengan Songkok Hitam

Para Veteran dengan Songkok hitam dalam salah satu acara kemasyarakatan

Paskibra Indonesia: Songkok Hitam tetap menjadi penutup kepala Wajib
Pegawai Negeri pun memakai Songkok Hitam (Yang PNS wanita tolong diabaikan)
Jangan Malu memakai Songkok hitam, Itu Punya kita
Jika kita merasa bangga saat memakai batik, maka kita seharusnya juga bangga memakai songkok hitam , karena keduanya merupakan warisan bangsa kita yang tentunya pantas dan harus dilestarikan. Harapannya tentu saja agar Semangat kebangsaan Indonesia lewat songkok hitam ini kembali terangkat seperti pada saat masa-masa pergerakan dulu.
http://mbahkarno.blogspot.com
Labels:
asal usul